Akademisi dianggap bisa turun tangan petakan masalah

Warga Butuh Solusi Tawuran

Kompas.com - 19/04/2011, 09:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tawuran pecah lagi di Tanah Tinggi, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, Senin (18/4/2011). Patroli rutin aparat pemerintah dan kepolisian jelas tidak bisa mengantisipasi tawuran di Tanah Tinggi. Akademisi diminta turun ke lapangan menggunakan ilmunya untuk membedah sisi sosial masyarakat setempat dan menemukan solusi.

Pada pagi hari, pukul 07.00, perkelahian massal terjadi antara RW 12 dan RW 07. Sorenya, sekitar pukul 17.30, tawuran warga berpindah tempat ke Jalan T. Keduanya di Kelurahan Tanah Tinggi.

Senin pagi kemarin warga yang siap beraktivitas tiba-tiba dikejutkan oleh batu-batu yang beterbangan."Saya dengar ribut-ribut sekitar pukul 07.00. Terus ada batu-batu dilempar ke arah sini. Sudahlah, saya sembunyi saja," kata Toni (31), warga RW 12.

Toni memilih menutup kembali lapak nasinya dengan terpal dan masuk ke rumah kontrakan bersama istrinya, Weni.

Menurut Toni, suasana panas sudah terasa sejak Jumat pekan lalu. Jumat malam itu, aparat dari kecamatan, kelurahan, beberapa lembaga swadaya masyarakat, dan polisi berjaga-jaga hingga Sabtu pagi. Penjagaan secara ketat itu dilanjutkan pada Sabtu malam.

Camat Johar Baru Suyanto Budi Roso mengatakan, sepanjang akhir pekan lalu, pihaknya memang meningkatkan pengawasan di Tanah Tinggi. Menurut dia, pada Sabtu malam hingga Minggu dini hari, suasana sudah aman. Tiba-tiba ada informasi dari warga setempat bahwa ada empat pemuda yang melemparkan molotov di RW 12.

"Waktu kami datangi, ternyata sepertinya memang ada yang mencoba memancing kerusuhan, provokator," kata Suyanto.

Menurut dia, para provokator itu kadang tiba-tiba datang dan menggedor pagar atau pintu warga. Warga yang terpancing emosinya menduga bahwa pelaku berasal dari RT, RW, atau kampung sebelah. Warga pun membalas dengan membabi buta dan pecahlah tawuran.

"Tidak ada motif yang jelas dari kedua belah pihak," tutur Kepala Kepolisian Sektor Johar Baru Komisaris Suyatno.

Suyatno menambahkan, dari hasil penyisiran polisi terhadap rumah-rumah warga RW 12 dan RW 07, petugas menyita celurit, bambu kawat berduri, molotov, tombak, dan minuman keras.

Pendekatan akademisi

Sepanjang 2010 hingga April 2011, sedikitnya terjadi 11 kali tawuran di Tanah Tinggi. Menurut Camat Johar Baru, ada tiga tempat yang menjadi langganan tempat tawuran, yaitu Jalan T, pertigaan Baladewa, dan RW 12.

"Selain persuasif, seperti posko antitawuran, kegiatan bersama antarwarga, sampai kegiatan siskamling bareng, perlu juga penegakan hukum," kata Suyanto.

Kalau perlu, lanjutnya, penyisiran untuk menjaring senjata tajam, minuman keras, hingga narkoba perlu rutin dilakukan oleh penegak hukum. Pemilik barang-barang terlarang harus diproses secara hukum sehingga timbul efek jera.

Di sisi lain, Kepala Kepolisian Sektor Johar Baru menegaskan, warga diharap tidak mudah terprovokasi. "Kalau ada yang mencurigakan, cepat hubungi kami," katanya.

Sebelumnya, psikolog forensik, Reza Indragiri Amriel, mengatakan, perkelahian merupakan wajah lain dari duplikasi kekerasan oleh masyarakat kalangan atas, seperti korupsi. Kekerasan itu tidak terselesaikan dengan baik oleh aparat dan akhirnya masyarakat meniru.

Psikolog Lia Sutisna Latif melihat bahwa masalah tawuran ini bisa diselesaikan, antara lain, dengan penataan ulang permukiman yang kerap terjadi tawuran.

Namun, penataan permukiman harus diikuti dengan pembekalan bagi warganya.

Suyanto menegaskan, para akademisi memang perlu berkiprah turun langsung mempelajari dan menganalisis masalah di Johar Baru. Psikolog, kriminolog, dan sosiolog, misalnya, dianggap paling bisa memetakan masalah serta menemukan solusi yang tepat. (NEL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau